BAB 6 KELOMPOK SOSIAL
A. PENGERTIA KELOMPOK SOSIAL
Manusia dipandang sebagai zoon politicon, yang selalu hidup
berkelompok. Kelompok-kelompok sosial terbentuk karena adanya hasrat
dalam diri manusia itu sendiri.
Sebagai mahluk sosial, manusia akan selalu hidup dalam
kelompok-kelompok tertentu. Hal itu terjadi karena adanya kenyataan
bahwa upaya manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya akan
lebih produktif diperoleh dalam kehidupan berkelompok.
Beberapa ahli sosiologi memberikan definisi tentang kelompok sosial sebagai berikut:
1. Joseph S. Roucek
Suatu keloompok meliputi dua atau lebih manusia yang diantara mereka
terdapat beberapapola interaksi yang dapat dipahami oleh para anggotanya
atau orang lain secara keseluruhan.
2. Wila Huky
Kelompok merupakan suatu unit yang terdiri dari dua orang atau lebih, yang saling berinteraksi atau saling berkomunikasi.
Dalam Oxford Dictionary Sociologi 2nd Edition, disebutkan bahwa
secara umum, Kelompok Sosial adalah sejumlah individu, dimaknai dengan
kriteria keanggotaan secara formal maupun informal, yang memiliki
kesadaran bersama dan dipersatukan oleh pola interaksi yang relatif
stabil (a number of individuals, defined by formal or informal criteria
of membership, who share a feeling of unity or are bund together in
relatively stable pattern of interaction).
B. Faktor Pembentuk Kelompok Sosial
terdapat setidaknya 2 (dua) faktor utama yang membentuk kelompk sosial, yakni:
1. Kedekatan
Kedekatan dapat berarti kedekatan fisik (tempat tinggal yang
berdekatan, bersekolah atau bekerja di tempat yang sama) mapun kedekatan
emosional (pertalian emosi karena kekerabatan atau persahabatan).
Apapun bentuknya, kedekatan meningkatkan peluang interaksi dan bentuk
kegiatan bersama yang memungkinkan terbentuknya kelompok sosial. Dengan
perkatan lain, kedekatan menumbuhkan interaksi yang berperan signifikan
dalam proses pembentukan kelompok sosial.
2. Kesamaan
Tak pelak harus diakui bahwa orang lebih suka berhubungan dengan
orang lain yang memiliki banyak kesamaan dengan dirinya. Kesamaan yang
dimaksud mencakup kesamaan minat, kepercayaan, nilai, usia, tingkat
kecerdasan, atau karakter-karakter personal lain. Semakin banyak
kesamaan yang dimiliki seseorang dengan orang lain maka kian besar pula
kemungkinan mereka akan membentuk kelompok sosial.
C. Karakteristik Kelompok Sosial
Suatu kelompok sosial memiliki sejumlah karakteristik (Narwoko, 2006:23), yakni:
1. Setiap individu harus merupakan bagian dari kesatuan sosial.
2. Terdapat hubungan timbal balik diantara individu-individu yang tergabung dalam kelompok.
3. Adanya faktor-faktor yang sama dan dapat memepererat hubungan
mereka yang tergabung dalam kelompok. faktor-faktor tersebut antara
lain, nasib yang sama, kepentingan yang sama, kepentingan yang sama,
tujuan yang sama dan sebagainya.
4. Berstruktur, berkaidah serta mempunyai pola perilaku.
5. Bersistem dan berproses.
D. Klasifikasi Kelompok Sosial
Secara umum, kelompok sosial dapat diklasifikasikan atas:
1. Kelompok Sosial yang teratur
a. Berdasarkan atas besar kecilnya jumlah anggota kelompok
* Kelompok primer (primary group)
Kelompok primer ditandai dengan adanya hubungan yang erat dimana
anggota-anggota saling mengenal dan seringkali berkomunikasi secara
langsung bertatapan (face to face). Selain itu, juga terdapat ikatan
psikologis yang erat serta kerja sama bersifat pribadi.
* Kelompok Sekunder (secondary group)
Pada kelompok sekunder, jumlah anggotanya banyak shingga tidak saling
mengenal, hungungan relatif renggang, sifatnya tak permanen, serta
sangat jarang berlangsung kontak diantara para anggotanya.
b. Berdasarkan atas derajat organisasinya
* Kelompok formal (formal group)
kelompok formal merupakan organisasi kelompok yang mempunyai
peraturan tegas dan sengaja dibuat oleh anggota-angotanya untuk ditaati
serta mengatur hubungan antaranggota. oleh karena erupaka organsiasi
yang resmi, dapat dipastikan terdapat struktur organisasi dan hierarki
diantara anggota-anggota kelompok bersangkutan.
* Kelompok informal (informal group)
Kelompok informal adalah organsisasi kelompok yang tidka resmi serta
tak memiliki struktur ataupun organisasi. biasanya kelompok ini dibentuk
atas dasar pengalaman-pengalaman dan kepentingan-kepentingan yang sama
dari para anggotanya.
Oleh karena tidak mengenal atran tertulis, maka loyalitas antar
anggota sangat menonjol. Para anggota umumnya dapat saling mengenal
pribadi dan sering bertatap muka. jadi, dapat dikatakan bahwa sifat
maupun ciri kelompok informal nyaris sama dengan kelompok primer.
c. Berdasarkan atas interaksinya
* Kelompok acuan (reference group)
Kelompok acuan merupakankelompok sosial yang menjadi ukuran bagi
seseorang untuk membentuk pribadi dan perilakunya. Nilai serta norma
yang berlaku dalam kelompok dijadikan acuan untuk bersikap, menilai, dan
bertindak.
* Kelompok kenaggotaan (membership grup)
Kelompok keanggotaan merupakan kelompok dimana seseorang secar afisik
maupun administratif memang menjadi anggota, namun tidak dijadikan
acuan dalam sikap, penilaian, dan tindakan.
2. Kelompok sosial tidak teratur
a. Kerumunan (crowd)
Prses terbentuknya kerumunan (crowd) bersifat sementara karena terkait leh kepentingan sesaat dan tidak terorganisir.
Adapun bentuk-bentuk kerumunan, antara lain:
* Formal audiences
Bentuk kerumunan ini mempunyai pusat perhatian dan tujuan yang sama,
tetapi sifatnya pasif. Contohnya: penonton bioskop, para pendengar
khotbah keagamaan.
* Planned expressive group
kerumunan ini berfungsi menyalurkan ketegangan-ketegangan yang alami
akibat rutinitas keseharian. Contohnya, kerumunan dansa, perserta sebuah
perjamuan.
* Kerumuna yang bersifat sementara
Inconvenient aggregation
yakni kumpulan yang kurang menyeangkan karena bersifat bersaingan
untuk berusaha menggunakan fasilitas-fasilitas yang sama. Contohnya :
orang-orang yang mengantre di loket penjualan tiket kereta api.
* Panic crowd
adalah kerumunan orang-orang yang sedang berada dalam keadaan panik.
Umumnya, panic crowd, yang diutamakan adalah usaha menyelamatkan diri.
Contohnya: orang-orang yang berusaha meloloskan diri dari dalam sebuah
gedung yang sedang dilalap api/kebakaran.
*Spectator Crowd
merupaka kerumunan dari orang-orang yang ingin melihat suatu kejadian
tertentu. Kerumuan ini sebenarnya hampir sama denga formal audience,
hanya saja terjadinya tidak direncanakan dan pada umumnya
kegiatan-kegiatan yang disaksikan bersifat aksidental. Contohnya,
kerumunan rang-orang yang ingin melihat secara langsung kondisi mayat
korban mutilasi yang ditemukan di tepi sungai.
@ Kerumunan yang bertentangan dengan norma-norma hukum (lawless crowds):
* Acting Mobs
yakni kerumunan yang bertindak secara emosional, berusaha mencapai
tujuan-tujuannya menggunakan kekerasan atau pengerahan kekuatan fisik
secara bertentangan dengan nilai dan norma yang berlaku dalam
masyarakat.
Contoh: demontrasi yang disertai perusakan terhadap fasilitas-fasilitas umum.
* Immoral crowd
Yaitu kerumunan-kerumunan yang bersifat immoral. Misalnya,
orang-orang yang mengadakan pesta minuman keras, menyalahgunakan
narkoba/napza dan sebagainya.
b. Publik (public)
bereda dengan kerumunan, publik merupakan kelompok yang bukan
kesatuan, karena individu-individu tidak pernah saling bertemu.
Interaksinya bersifat tak langsung, melalui alat-alat media.
c. Massa
Berbeda dengan crowds, massa merupakan kumpulan orang banyak yang
mempunyai ehendak atau pandangan yang sama, tetapi tidak berkerumun pada
suatu tempat tertentu dan biasanya mengikuti kejadian atau peristiwa
peniting dengan alat-alat komunikasi modern sebagaimana halnya publik.
Mass acenderung lebih rasional dan logis ketimbang publik.
Menurut beberapa ahli Sosiologi, kelompok sosial terbagi atas:
1. Klasifikasi William graham Sumner (1940)
Mengungkapkan pembedaan antara kelompok kita (we-group) atau kelompok
dam (in-group) dengan orang lain maupun kelompk lain (other-group) atau
kelompok luar (out-group).
Menurut Sumer, dikalangan kelompok dalam dijumpai persahabatan,
kerjasama, keteraturan, dan kedamaian. Sedangkan hubungan antara
kelompok dalam dengan kelompok luar cenderung ditandai kebencian,
permusuhan, perang dan sebagainya.
2. Klasifikasi Robert Bierstedt (1948)
Robert Bierstedt membedakan kelompk sosial sebagai berikut:
a. Kelompok asosiasi (associational group)
Para anggotnaya mempunyai kesadaran jeis, persamaan kepentingan
pribadi maupun kepentingan bersama, ada kontak dan komunikasi diantara
para anggota dijumpai adanya ikatan organisasi formal. Dapat dijumpai
juga adanya persamaan kepentigan pribadi (like interest) maupun
kepentingan bersama (common interest). Contohnya OSIS, Pramuka dsb.