Selasa, 15 Februari 2011

KEBERAGAMAN SUKU BANGSA DI INDONESIA

  1. Keberagaman Suku Bangsa

Dari ilmu antropologi diketahui bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, Cina Selatan. Ereka bermigrasi ke Indonesia secara bergelombang dan menempati pulau-pulau di Indonesia. Menurut ahli sejarah, antara tahun 3000 – 500 SM Indonesia telah dihuni oleh penduduk migran sumongoloid dari Asiaa yang kemudian bercampur dengan pendduk indigenous (pribumi/asli) dan indo-arian dari sia Selatan. Dari percampuran dan seleksi ala mini, di Indonesia kemudian berkembang sekitar 350 suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Suku bangsa Jawa merupakan komunitas terbesar dari penduduk Indonesia, diikuti dengan suku Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, Bali, Ambon, Dayak dan sebagainya.

      Klasifikasi aneka suku bangsa di Indonesia biasanya didasarkan pada system lingkaran hukum adapt. Sistem klasifikasi ini mula-mula disusun oleh Van Vallenhoven yang membagi Indonesia ke dalam 19 daerah suku bangsa, yaitu:
  1. Aceh
  2. Gayo-Alas dan Batak (Nias dan Batu)
  3. Miangkabau (Mentawai)
  4. Sumatera Selatan
  5. Melayu
  6. Bangaka Belitung
  7. Kalimantan
  8. Minahasa (Sangir – Talaud)
  9. Gorontalo
  10. Toraja
  11. Sulawesi Selatan
  12. Ternate
  13. Ambon (Kepulauan Barat Daya)
  14. Irian
  15. Timor
  16. Bali dan Lombok
  17. Jawa Tengah dan Jawa Timur
  18. Surakarta dan Yogyakarta
  19. Jawa barat 
  1. Keberagaman Bahasa

Seiring dengan keanekaragaman suku bangsa di Indonesia terdapat kurang lebih 250 bahasa dan dialek. Menurut para ahli, sebagian besar bahasa-bahasa di Indonesia termasuk dalam rumpun bahasa Austonesia (Australia-Asia). Gorys Keraf membagi rumpun bahasa ini kedalam sub rumpun:
  1. Bahasa-bahasa Austronesia Barat atau Bahasa-bahasa Indonesia/Melayu:
v     Bahasa-bahasa Hesperonesia (Indonesia Barat), antara lain meliputi sebagai berikut;
  • Bahasa-bahasa Minahasa : Tombula, tontenboan, Tondano dan lain-lain.
  • Bahasa-bahasa Aceh : Barus, Tunong.
  • Bahasa-bahasa Gayo : Laut-Luos
  • Bahasa-bahasa Batak : Dairi, simangulungun, Toba, karo dan lain-lain.
  • Bahasa-bahasa Minangkabau : Agam, Tanah Datar, Kerinci
  • Bahasa-bahasa Melayu : Riau-Lingga, Betawi, Kalimantan, Melayu Maluku, Kubu, Niap, dan lain-lain
  • Bahasa-bahasa Melayu Tengah : Pasemah, serawai, Musi
  • Bahasa-bahasa Lampung :Api, Nyo
  • Bahasa Nias
  • Bahasa-bahasa Mentawai: Simalegi, Sakalagan
  • Bahasa Jawa
  • Bahasa Sunda
  • Bahasa Madura
  • Bahasa-bahasa Dayak : Kalimantan, dayak laut
  • Bahasa Bali Sasak
  • Bahasa-bahasa Gorontalo
  • Bahasa-bahasa Toraja
  • Bahasa-bahasa Bugis-Makasar
  • Bahasa Bima
  • Bahasa Manggarai
  • Bahasa-bahasa Sumba
  • Bahasa Sabu

v     Bahasa-bahasa Indonesia Timur
  • Bhasa-bahasa Timor-Ambon : Lamaholot, Kedang, timor, kupang, Sram Barat, Seram Timur dan lain-lain
  • Bahasa-bahasa Sula Bacan :Sanana, bacan Obi
  • Bahasa-bahasa Halmahera Selatan-Irian Barat: Patani, gane, Biak, Windesi, dan lain-lain

  1. Bahas-bahasa Austronesia Timur atau polinesia:
    • Bahasa-bahasa Melanesia (Melanesia dan pantai Timur Irian)
    • Bahasa-bahasa Heonesia (Bahasa Polinesia dan Mikronesia)
  1. Keberagaman Religi

Selain suku bangsa dan bahasa, Indonesia juga memiliki keberagaman agama atau kepercayaan. Terhitung di Indonesia terdapat enam agama yang diakui secara resmi oleh negara, yaitu Islam, Khatolik, Protestan, Hindu, dan Budha dan Konghucu.

      Selain itu juga berkembang pula kepercayaan-kepercayaan atau agama asli Nusantara diantaranya: Sunda wiwitan (Banten), aliran Madrais, Kejawen (Jateng dan Jatim), Parmalim (Batak), Tonaas Walian (Minahasa), tolotang (Sulsel), Wetu telu (Lombok), naurius (Pulau Seram), Kaharingan (Kalimantan)


  1. Keberagaan Seni dan Budaya

Suku bangsa yang beragam di Indonesia tentu menghasilkan kebudayaan yang beragam pula. Salah satu wujud kebudayaan itu adalah kesenia, baik seni sastra, seni tari, seni musik, seni drama, seni rupa, dan sebagainya. Ada ratusan bahkan mngkin ribuan tarian dan lagu daerah di Indonesia, belum lagi hasil seni rupa, drama, dan sebagainya. Di daerah Sunda misalnya dikenal alat musik berupa angklung yang sudah dikenal dunia, di Jawa misalnya mengenal tarian Serimpi, lagu Suwe ora Jamu, alat musik gamelan, pertunjukan wayang kulit, wayang golek, seni batik, dan sebagainya.



B. MANFAAT KEBERAGAMAN BUDAYA

            Tidak semua negara memiliki keberagaman budaya seperti yang dimiliki oleh Indonesia. Dengan demikian, keberagaman budaya memberikan manfaat bagi bangsa kita. Dalam bidang bahasa dapat memperkaya perbendaharaan istilah dalam bahs Indonesia. Sementara itu dalam bidang pariwisata, potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata di Indonesia yang bisa mendatangkan devisa. Pemikiran yang timbul dari sumber daya manusia di masing-masing daerah dapat pula dijadikan acuan bagi pembagunan nasional.
 
C. CONTOH-CONTOH BUDAYA LOKAL

1. Kebudayaan Lokal Masyarakat Sunda

            Suku Bangsa Sunda adalah salah satu suku bangs yang mendiami Pulau Jawa Secra administratid suku bangsa ini sebagian besar menjadi penduduk Povinsi Jawa Barat. Daerah kebudayaannya meliputi wilayah Pasundan (Jawa Barat) hingga Sungai Cilosari dan sungai Citanduy, yang merupakan perbatasan perkembangan bahasa Sunda dan Jawa.

            Bahasa percakapan yang dipakai adalah bahasa Sunda. Bahasa ini mengenal tingkatan dari yang paling halus sampai yang kasar. Bahasa sunda halus berkembang di daerah Priangan seperti Ciamis, Tasikmalaya, garut, Sumedang, bandung, Sukabumi dan Cianjur. Bahasa sunda yang kurang halus berkembang di daerah Banten, Karawang, Bogor, dan Cirebon. Bahasa Sunda yang dipakai oleh masyarakat Badui di Banten Selatan disebut bahasa Sunda Buhun (kuno).

a.             Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan suku bangsa Sunda mengenal sistem parental, yaitu mengikuti garis keturunan kedua orang tua, ayah dan ibu. Dalam sistem ini, semua anggota keluarga baik dari pihak ayah maupun pihak ibu termasuk dalam keluarga atau kerabat. Namun demikian, keluarga terpenting adalah keluarga batih yang terdiri dari ayah, ibu dan anak-anak ditambah mertua, paman bibi dan keponakan. Jika sang ayah melakukan poligami (beristri lebih dari satu) keluarga batih akan menjadi bertambah besar sehingga disebut keluarga luas. Di luar keluarga batih, terdapat kelompok kerabat yang disebut bodoroyot, yng merupakan kerabat-kerabat dari satu garis keturunan nenek moyang.

b.             Sistem religi

Sebagian besar masyarakat suku bangsa Sunda sekarang ini memeluk agama Isla. Namun demikian di beberapa bagian, terutama di pedesan pengaruh animisme dan dinamisme masih terasa. Hal ini terlihat dari adanya kepercayaan terhadap hal-hal yang bersifat gaib dan takhayul serta pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kesaktian, seperti keris pusaka, pedang tua, batu cincin, jimat dan sebagainya.

c.              Kesenian

Masyarakat Sunda memiliki beragam kesenian. Alat musik tradisional masyarakat Sunda adalah angklung. Alat musi ini pada awalnya menggunakan tangga nada pentatonis sebagaimana umumnya musik dan lagu masyarakat Sunda. Namun atas jasa Daeng Sutigna dan Imam sukayat, alat musik ini dirubah sehingga dapat memainkan lagu-lagu bertangga nada diatonis seagaimanalagu-lagu modern saat ini. Alat musik ini kemudian sangat berkembang dan dikenal luas, baik di tanah air maupun dunia.

Selain alat musik, masyarakat Sunda juga memiliki seni pertunjukkan reog, calung, wayang golek, gendang pencak, dan sejumlah tarian-tarian seperti jaipong dan tari topeng. Kesenian-kesenian ini uumnya dibawakan pada saat upacara-upacara, seperti selamatan pernikahan, sunatan, meruwat tanah dan syukuran.

d.             Sistem politik dan ekonomi

Dalam masyarakat sunda desa merupakan kesatuan administratif yang terkecil.Desa mempunyai sistem pemerintahan yang kepala desanya disebut dengan istilah yang berbeda-beda ada yang menyebutnya kuwu atau lurah. Hyang mengurusi masalah pengairan di daerah sunda biasa disebut ulu-ulu. Adapun sebgai penghargaan kepada kepala desa diberikan hak untuk mengolah tanah sengan sebutan tanah bengkok, yang diolah pada saat ia menjabat saja.

Kehidupan perekonomian di daerah Jawa Barat sudah terlalu kompleks oleh berbagai macam aspek kehidupan ekonomi kota, seperti perkebunan dan sebagainya. Kota-kota di Jawa Barat berfungsi sebagai pusat perdagangan transito. Selain perkebunan masyarakat Jawa barat pula mengenal pertanian dan perdagangan. Pertanian ada yang dilakukan secara tradisional ada pula yang modern tergantung dari kondisi areal pertanian, ada yang menggunakan irigasi ada pula yang hanya mengandalkan pada saat musim hujan tiba (sawah guludug), Pertaniannya ada lahan kering atau ladang) dan pesawahan.



2. Kebudayaan Lokal Masyarakat Jawa

            Suku bangsa Jawa merupakan salahsatu suku bangsa yang mendiami pulau Jawa. Jumlah penduduk suku bangsa Jawa merupakan yang terbesar di Indonesia dan saat tidak hanya mendiami pulau Jawa tetapi juga menyebar hampir di seluruh pulau di Indonesia.

            Daerah kebudayaan suku bangsa Jawa meliputi wilayah bagian tengah dan timur Pulau Jawa, seperti daerah Purwokerto, semarang, surakarta, surabaya, malang, kediri dan daerah-daerah pesisir. Secara historis daerah kebudayaan suku bangsa Jawa ini merupakan daerah bekas Kerajaan Mataram.

            Suku bangsa Jawa menggunakan bahasa jawa sebagai bahasa percakapan. Bahasa ini terdiri dari beberapa tingkatan, yakni bahasa Jawa Ngoko dan bahasa Jawa Krama. Disamping itu terdapat pula bahasa Jawa Madya, Krama Inggil dan Kedaton. Bahasa Jawa ngoko biasa digunakan sebagai bahasa ppercakapan dengan sahabat, orang yang lebih muda atau yang berstatus sosial lebih rendah. Bahasa Jawa Krama biasa digunakan dalam percakapan dengan orang yang akrab, dengan orang yang lebih tua atau memiliki status sosial lebih tinggi. Bahasa Jawa Madya terdiri dari Madya Ngoko, Madya Antara dan madya Kromo. Bahasa Krama inggil umumnya dipakai di daerah pedesaan, sedangkan bahasa kedaton digunakan di kalangan istana kerajaan baik Yogyakarta maupu Surakarta.

a. Sistem Kekerabatan

            Sistem kekerabatan suku bangsa Jaw mengenal sistem bilateral. Semua kakak laki-laki dan perempuan, ayah dan ibu, serta istri-istri dan suami-suami masing-masing diklasifikasikan enjadi satu dan disebut siwa atau tuwa. Adik-adik dari ayah dan ibu dikelompokkan ke dalam dua golongan berdasarkan jenis kelamin, yakni paman bagi yang laki-laki dan bibi bagi yang perempuan. Diluar itu terdapat pula sanak sadulur, yatu anggota kerabat keturunan nenek moyang sampai generasi ketiga. Mereka ummnya adalah tinggal d desa, seperti saudara sepupu, paman, bibi, ipar, serta kerabat dekat lainnya. Selain itu ada juga alur waris yaitu kerabat sampai tujuh turunan yang asih dikenali tempat tinggalnya.

            Dalam adat suku bangsa Jawa, perkawinan antara dua orang yang masih misannya tidak diperbolehkan. Artinya, keduanya adalah anak dari dua orang saudara laki-laki sekandung (pancer lanang). Diluar itu, meeka diperbolehkan menikah. Perkawinan juga diperbolehkan antara seorang duda dengan adik almarhu istrinya. Perkawina itu disebut ngarang wulu.

b. Sistem Religi

            Sebagian besar suku bangsa Jawa saat ini memeluk agama Islam. Sebagian lagi memeluk agama Khatolik, protestan, hindu, Buddha serta aliran kepercayaan. Walaupun demikian, sebagian masyarakat Jawa masih dipengaruhi tradisi-tradisi dari agama sli, seperti kepercayaan terhadap benda keramat (keris pusaka, cincin, dan sebagainya), pemujaan terhdap mahluk halus dan arwah nenek moyang , seperti aliran kebatinan keaniyahan serta aliran kehindujawian.

            Masyarakat Jawa memiliki serangkaian pacara tradisi yang menjadi bagian dari sistem religinya, seperti upacara selamatan Beberapa jenis upacara selamatan masyarakat Jawa adalah:

1.             Selamatan dalam rangka lingkaran idup seseorang, upacara hamil 7 bulan, upacara kelahiran, potong rambut, menyentuh tanah pertama kali, tusuk telinga, khitanan, perkawinan dan kematian.

2.             Selamatan yang berhbungan dengan penggarapan tanah dan panen

3.             Selamatan yang berhubungan dengan perayaan hari besar agama Islam, seperti upacara sekaten pada Maulid Nabi

4.             Selamatan yang berhubungan dengan peristiwa tertentu, seperti menempati rumah baru, ruwatan, perjalanan jauh dan kaulan.

c. Kesenian

            Kesenian masyarakat Jawa sangatlah beragam. Alat musik tradisional Jawa adalah gamelan yang sebetulnya juga di kenal di Jawa Barat dab Bali. Seni ukir juga berkembang di masyarakat Jawa baik di kain (batik) maupun benda seperti kayu dan semen. Seni ukiran ini sangat tampak di tiang-tiang atau gapura rumah-rumah adat Jawa (Joglo) maupun di keraton (istana Yogayakarta dan Surakarta). Masyarakat Jawa juga emiliki banyak jenis lagu dan tarian, seperti Suwe ora jamu, tarian serimpi, kendalen dan sebagainya.



3. Kebuadayaan Lokal masyarakat Batak

            Suku bangsa Batak adalah salah satu suku bangsa yang mendiami Pulau Sumatera. Suku bangsa ini sebagian besar mendiami dataran tinggi Karo, Deli hulu, Langkat Hulu, Serdang, Simalungun, Dairi, Toba,  atauHumbang, Silindung, Angkola, Mandailing, dan Tapanuli Tengah.

            Suku bangsa Batak dikenal sebagai suku bangsa perantau karena banyak anggota sukunya yang merantau ke berbagai daerah terutama kota-kota besar.. Walaupun tersebar, suku bangsa Batak dikenal sangant menjunjung tinggi kebudayaannya seklaipun tidak berdiam di kampung halamannya.

            Suku bangsa Batak menggunakan bahasa Batak dengan beberapa logat dan dialek, yaitu dialek Karo, Pakpak, Simalungun dan Toba. Dialek Karo dan Toba memiliki perbedaan paling jauh dengan dua dialek  lainnya.

    1. Sistem kekerabatan

Suku bangs Batak mengenal sistem kekerabatan patrimonial, yaitu mengikuti garis keturunan ayah. Masyarakat Batak Toba, Mandailing dan Angkola pada umumnya dapat menunjukkan hubungan kekerabatan sampai 20 generasi keatas. Kelompok kekerabtan dihitung atas dasar satu ayah, satu kakek nenek moyang. Hubungan keturunan atas dasar satu ayah di sebut Sada Bapa (pada orang Karo) dan Saama (pada orang Toba). Sedangkan hubungan keturunan atas dasar satu kakek atau nenek moyang disebut Sda Nini pada orang Karo atau Saomapu pada orang Toba.

      Sdan nini atau saomapu merupakan klen kecil yang meliputi semua kerabat patrimonial yang masih dikenal garis kekerabatannya. Kelompok kekerabatan yang besar disebut marga. Marga-marga pada orang Karo(merga) antara lain ginting, sembiring, Perangin-angin, Barus, Pandia, Singarimbun, tambunan. Marga-marga pada orang Toba antara lain Simatupang, Siregar, nababan, lumbantoruan, Siburian, dan sebagainya. Marga pada orang Toba menunjukkan nama dan nenek moyang, misalnya Siregar Silo menunjukkan ia adalah keturunan dari nenek moyang bernama silo anaknya Siregar. Sementara pada orang Karo, marga hanya merupakan nama kolektif dan tidak menunjukkan garis nenek moyang.

      Dalam masyarakat Batak, seorang laki-laki tidak diperbolehkan menikah dengan perempuan dari marganya sendiri atau anak perempuan saudar perempuan ayah. Mereka diperbolehkan manikah dengna anak perempuan dari saudara laki-laki ibunya (marpariban atau rimpal).
 
1. Sistem Religi

Sistem religi masyarakat Batak banyak dipengaruhi agama-agama besar seperti Islam, Protestan, Khatolik, Hindu dan Budha. Sekarang ini agama Islam banyak dianut Tapanuli selatan. Sementara agama protestan dan Khatolik banyak dianut masyarakat Toba, Karo, Dairi, dan Simalungun. Walaupun demikian, kepercayaan-kepercayaan asli masih mewarnai tradisi masyarkat suku bangsa Batak ini.

      Masyarakat batak percaya bahwa alam semesta diciptakan oleh debata Mulajadi na Bolon (debata kai-kaci dalam bahasa Karo). Penguasa alam ini tinggal dilangit sebagai penguasa dunia tengah yang engatur kejadian dia lam seperti angin, hujan, kehamilan, kelahiran, dan sebagainya. Ia tinggal di dunia dengan menggunakan nama silaon na bolon atan tuan padukah ni aji. Sebagai penuasa makhluk halus, ia bernama pane nan bolon atau tuan banua koling. Sedangkan sebagai pengusa matahari adalah sinimataniari dan penguasa pelangi adlah deru dayang.

      Masyarakat Batak juga mengenal tiga konsep tentang jiwa, yaitu tondi, sahala, dan begu. Tondi adlah jiwa orang itu sendiri. Sahala adalah kekuatan yang dimiliki seseorang, walaupun tidak semua orang memilikinya dan kualitasnya pun berbeda-beda. Sahala seorang pemimpin tentu lebih kuat daripada milik orang biasa. Begu adalah tondinya orang meninggal. Tondi merupakan kekuatan yang memberi hidu kepada bayi atau calon manusia, sedangkan sahala menentukan wujud dan jalan orang itu dalam kehidupan selanjutnya. Begu berperilaku seperti manusia, namun perilakunya adlah kebalikan dari manusia. Jika manusia melakukan segala sesuatunya pada siang hari, begu melakukannya pada malam hari. Begu dapat berbuat baik dan jahat. Agar berbuat baik, begu harus dipuja dengan mengadakan plean atau upacara sesajian.

  1.  
    1. Kesenian

Sama seperti suku bangsa lainnya di Indonesia, suku bangs Batak memiliki ragam kesenian yang banyak. Seni ukir dapat dilihat pad motif-motif pakaian adat serta tiang-tiang rumah adat yanng masing-masing memiliki arti simbolis tertentu. Selain itu, terdapat banyak lagu-lagu daerah srta tari-tarian. Orang Batak dikenal sangat gemar bernyanyi dan menari. Beberapa tarian yang cukup dikenal hingga sekarang adalah tari Manduda dan tari Sekapur sirih. Tari mandula adalah tarian tarian rakyat Simalungun saat menyambut panen, sedangkan tari sekapur sirih adlah tarian menyambut tamu.

4. Kebudayan Lokal Masyarakat Bugis

Suku bangs Bugis adalah salah satu suku bangsa yang mendiami Pulau Sulawesi, tepatnya sulawesi Selatan. Namn demikian, sku Bugis yang sejak dahulu dikenal sebagai suku bangs pelaut, pad kenyataanya juga mendiami daerah-daerah lain diluar Sulawesi Selatan. Di beberapa daerah, seperti di Flores dan Kalimantan, suku bagnsa Bugis membentuk perkampungan sendiri dengan arsitek rumah dan kebiasaan yang sama dengan kampung halamannya di Sulawesi Selatan.

Kebudayaan suku bangsa ini di Sulawesi Selatan meliputi darah Sinjal Bulukumba, Bone, Sopeng, Wajo, Didenreng Rampang, Pinreng, Polewali-Mamasa, Enrekeng, Lawu, Pare-pare, barru, Pangkajenan, dan Maros.

Bahasa yang digunakan disebut bahas Ugi atau lebih dikenal sebagai bahasa Bugis. Pada naskah-naskah kuno bangsa Bugis, huruf yag dipakai adalah dari aksara Lontara. Sementara setelah masuknya pengaruh Islam pad abad ke-17, naskah-naskah kebanyakan ditulis dalam aksara bahasa Arab, yang disebut aksara Serang.

a.       Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan masyarakat Bugis tergambar dalam sistem Pangaderreng yang merupakan sistem adt keramat yang salah satunya adalah Ade Akkalabinengeng. Di dalam unsur ini tergambar bgaimana hbungan kekerabatan dalam masyarakat Bugis yang berkaitan dengan perkawinan.

Masyarakat Bugis mengenal tiga bentuk perkawinan antara saudara sepupu:

Ø      Perkawinan assialang marola, perkawinan antara saudar asepupu derajat pertama baik dari pihak ayah maupun ibu.

Ø      Perkawinan assialannaa memang, perkawinan antara saudara sepupu derajat kedua dari pihak ayah atau ibu.

Ø      Perkawinan ripaddeppe mabelae, perkawinan antara saudara sepupu derajat ketiga dari pihak ayah atau ibu.

Bentuk perkawinan yang dilarang adalah perkawinan antara anak dengan ibu atau ayah, antara saudara sekandung, antara menantu dan mertua, antara paman dan bibi dan antara ccu dan kakek atau nenek.

b.      Sistem Religi

Saat ini masyarakat Bugis umumnya menganut agama Islam. Namun demikian, dibeberapa daerah masih terlihat pengaruh kepercayaan kuno, yakni kepercayaan terhadap dewa yang disebut dewa Patoto-e (dewa yang menentukkan nasib manusia), dewa seuwa-e (dewa yang tunggal) dan dewa Turie a’rana (dewa tertnggi).

Masyarakat pedesaan Bugis umumnya terikat oleh sistem religi yang disebut Pangaderreng. Sistem ini mengandung 4 unsur pokok yaitu sebagai berikut:

  • Ade adalah aturan hubungan kekerabatan, adat perkawinan (ade akkalabinengeng) dan norma kemasyarakatan (ade tana)
  • Bicara  adalah hukum adat yang berisikan hak dan kewajiban warga di depan pengadilan adat.
  • Rampang berisi perumpamaan atau pandangan keramat yang berfungsi sebagai penguat keputusan hukum adat dan mencegah tindakan yang merugikan kepentingan orang lain.
  • Wari merupakan pengelompokkan benda, peristiwa, dan kegiatan dalam kehidupan masyarakat sesuai kategorinya, seperti penempatan benda-benda, pemeliharaan hubungan kekerabatan berdasarkan adat istiadat, serta pelapisan sosial masyarakat Bugis.
  • Sara merupakan penyempurna keseluruhan unsur yang berisi pranta sesuai dengan hukum Islam.

c.       Kesenian

Kesenian Masyarakat Bugis dapat kita saksikan dalam arsitektur rumah dan ukiranukiran pad tiang atau gerbang rumah. Selain itu, tedapat pula bentuk-bentuk kerajinan rumah tangga seperti tenunan sarung yang sudah cukup dikenal luas di Indonesia serta seni tarik suara dan tarian.



5.             Kebudayaan lokal Mayarakat Dayak

Suku Dayak adalah salah satu suku bangsa yang mendiami Pulau Kalimantan. Ereka dianggap sebagai suku bangsa asli pulau tersebut. Suku bangs Dayak terdiri dari banyak kelompok suku bangsa, diantaranya Dayak Ngaju, Ot-danum dan Ma’anyan. Dayak Ngaju dan Ot-danum mendiami daerah aliran sungai, seperti sungai Kapuas, Kahayan, dan Malwai. Masyarakat Ngaju umumnya menempati daerah hulunya. Sementara Dayak ma’anyan umumnya hidup tersebar di  Kabupaten Barito selatan.

Ketiga suku bangsa Dayak ini memiliki bahasa yang hampir mirip yang oleh para antropolog disebut sebagai keluarga bahas Barito.

a.       Sistem Kekerabatan

Sistem kekerabatan suku bangsa dayak mengenal sistem ambilineal, yaitu mengikuti garis keturunan laki-laki dan perempuan. Sebagian besar anak-anak laki-laki atau peemruan yang sudah menikah akan tetap tinggal bersama orangtuanya. Inilah yang membnetuk keluarga luas (ultralokal). Masyarakat Dayak tidak melarang anak perempuannya menikah dengan laki-laki dari suku bangsa lain asalkan mereka mau tinggal bersama keluarga istrinya.

Masyarakat Dayak mengenal bentuk perkawinan hajenan, yaitu perkawinan antara dua saudara sepupu yang kakeknya bersaudara kandung. Mereka juga mengenal perkawinan cross cousin, yaitu antara anak-anak saudara laki-laki ibu atau antara anak-anak saudara permpuan ayah. Mereka juga mengenal perkawinan antara dua orang saudara sepupu yang ibunya bersaudara sekandung. Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan antara saudara sepupu yang ayahnya bersaudara sekandung atau antara paman dan kemenakannya.

b.      Sistem Religi

Masyarakat Dayak saat ini banyak dipengaruhi agama-agama besar seperti Islam, Khatolik, Protestan dan Hindu dan Budha. Namun demikian, sebagian juga masih berpegang pad agama asli yang biasa disebut Kaharingan, yang berarti air kehidupan. Dalam kepercayan ini, air kehidupanlah yang memberi kehidupan kepada manusia. Masyarakat Dayak percaya bahwa ad aroh-roh halus (ganan) yang berdiam di pohon-pohon atau batu-batu besar, hutan belukar, sungai, danau, dan sebagainya. Selain itu, mereka juga percaya pad roh-roh nenek moyang (liau) yang masih berada disekitar mereka.

Orang Dayak percaya bahwa jiwa seseorang yang mati akan meninggalkan raganya sebagai liau dan senantiasa berada disekitar manusia. Liau itu nantinya akan perdi kepad dewa tertinggi namun memlalui proses yang sangat panjang dengan segala tantangan dan ujian. Untuk berhubung dengan roh-roh ini, orang Dayak melakukan berbagai upacara dengan memberikan sesajian dan sebaginya.

Orang Dayak juga memiliki upacara-upacara keagamaan lainnya seperti upacara kelahiran, pembakaran mayat, upacara menanm dan memanen tanaman, dan upacara mengusir hama tanaman yang dipimpin oleh seorang balian (ahli agama).

c.       Kesenian

Masyarakat Dayak memiliki beragam kesenian, baik seni musik, tarian, seni ukir, ataupun tenun. Alat musik yang biasa dipakai umumnya terbuat dari bambu atau kayu yang dimainkan dengan cara dipukl berirama mengikuti tarian dan lagunya. Tarian masyarakat Dayak sangat banyak, diantaranya tarian Tambun, Balean dades, Bungai. Tari-tarian ini umumnya dibawakan ketika upacara-upacara adat.

Seni ukir masyarakat Dayak umumnya berupa patung-patung kayu dan tiang-tiang rumah yang diukir dengan tangna dan memiliki simbol-simbol tertentu. Kain tenun yang dikenal umum terbuat dari bahan kapas dan kulit kayu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar